KONFERENSI MEJA BUNDAR DAN PENGAKUAN KEDAULATAN
Kelompok 10
Anggota :
1. Tri Utami Febriyani
2. Syahara Dwi Pratiwi
3. Putri Citra Rahmawati
4. Nurismayani
Kelas V.B
SDN Sukamaju Baru 2
Tahun Pelajaran 2016/2017
KONFERENSI MEJA BUNDAR
Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara Indonesia dan Belanda dan merupakan salah satu perundingan yang menjadi tonggak diakuinya kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia.
Latar Belakang :
- Belanda mendapat kecaman dari dunia Internasional karena usahanya untuk meredam kemerdekaan Indonesia dilakukan melalui jalan kekerasan.
- Indonesia ingin mempertahankan kemerdekaan dan bebas dari penjajah.
- Indonesia ingin memperoleh pengakuan kedaulatan dari Belanda.
- Untuk menyelesaikan sengketa antara Indonesia dan Belanda.
- Usulan Roem-Royen untuk segera mengadakan Konferensi Meja Bundar (KMB).


Proses KMB :
Konferensi Meja Bundar (KMB) dilaksanakan di Den Haag Belanda, pada tanggal 23 Agustus 1949 hingga 2 November 1949. Dalam KMB tersebut dihadiri delegasi Indonesia, BFO (Bijzonder Federaal Overleg), Belanda, dan perwakilan UNCI. Berikut ini para delegasi yang hadir dalam KMB.
> Indonesia terdiri dari Drs. Moh. Hatta, Mr. Moh Roem, Prof Dr. Mr. Soepomo.
> BFO dipimpin Sultan Hamid II dari Pontianak.
> Belanda diwakili Mr. Van Maarseveen.
> UNCI diwakili oleh Chritchley.
Untuk mempermudah pembahasan dalam permasalahan konferensi maka dibentuk 3 komisi :
• Komisi Ketatanegaraan
Membahas permasalahan mengenai ketatanegaraan.
• Komisi Keuangan
Membahas permasalahan mengenai keuangan.
• Komisi Militer
Membahas permasalahan mengenai kemiliteran.
KNIL = Dibubarkan
APRIS = Dibentuk dengan TNI sebagai intinya
Hasil KMB :
1. Belanda mengakui RIS sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
2. Pengakuan Kedaulatan dilakukan selambat-lambatnya tanggal 30 Desember 1949.
3. Masalah Irian Barat akan dilakukan perundingan lagi dalam waktu 1 tahun setelah pengakuan kedaulatan RIS.
4. Antara RIS dan Kerajaan Belanda akan diadakan hubungan Uni Indonesia Belanda yang dikepalai Raja Belanda.
5. Segera akan dilakukan penarikan mundur seluruh tentara Belanda dan Kapal-kapal perangnya.
6. Pembentukan Angkatan Perang RIS (APRIS) dengan TNI sebagai intinya.
Dampak KMB :
PENGAKUAN KEDAULATAN
Dengan berakhirnya KMB, berakhir pula perselisihan Indonesia-Belanda. Pengakuan pertama datang dari negara-negara yang tergabung dalam Liga Arab, yaitu, Mesir, Suriah, Libanon, Saudi Arabia, Afganistan, India dan lain-lain.
Walaupun Belanda sendiri tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan hanya mengakui tanggal 27 Desember 1949, namun keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia itu tetap terhitung sejak Proklamasi Kemerdekaan oleh Bangsa Indonesia.
Sesuai hasil KMB, pada tanggal 27 Desember 1949 diadakan upacara pengakuan kedaulatan dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah RIS. Upacara pengakuan kedaulatan dilakukan di dua tempat, yaitu di Den Haag dan Yogyakarta secara bersamaan. Dalam acara penandatanganan pengakuan kedaulatan di Den Haag, Ratu Yuliana bertindak sebagai wakil Negeri Belanda dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil Indonesia. Sedangkan dalam upacara pengakuan kedaulatan yang dilakukan di Yogyakarta, pihak Belanda diwakili oleh Mr. Lovink (wakil tertinggi pemerintah Belanda) dan pihak Indonesia diwakili Sri Sultan Hamengkubowono IX.
Dengan pengakuan kedaulatan itu berakhirlah kekuasaan Belanda atas Indonesia dan berdirilah Negara Republik Indonesia Serikat. Sehari setelah pengakuan kedaulatan, Ibukota negara pindah dari Yogyakarta ke Jakarta. Kemudian dilangsungkan upacara penurunan bendera Belanda dan dilanjutkan dengan pengibaran bendera Indonesia.
